TAFSIR AYAT TARBAWY SURAH ALI ‘IMRAN AYAT 79-80

25 05 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anda tentu memahami tentang ilmu tafsir dimana ilmu ini menafsirkan ayat al-Qur’an berdasarkan dalil aqli dan naqli. Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan masalah hukum, sosial, ekonomi bahkan sampai kepada pendidikan sehingga selayaknya manusia harus berpedoman pada al-qur’an dan hadist karena hadist juga menjadi dukungan al-qur’an.
Dalam hal ini kami akan mencoba membahas (menafsirkan) ayat yang berkenaan dengan pendidikan yaitu Qur’an surah Al-Imran ayat 79-80. menurut tafsir al-Misbah bahwa inti dari ayat tersebut adalah hubungan antara pendidik dan peserta didik, sarana (pedoman), serta sikap seorang yang dididik dan pendidik.
Dalam bab selanjutnya akan selanjutnya akan dibahas sercara lebih terperinci. Sehingga menambah pengetahuan, semoga makalah ini bias bermanfaat bagi kita semua.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, kita dapat mengambil rumusan masalah, yaitu :
Apa isi dari surah al-Imran ayat 79-80 ?
Apa kaitan antara surah al-Imran ayat 79-80 dengan dunia pendidikan ?
C. Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut, kita dapat mengambil tujuan , yaitu:
Mengetahui isi dari surah al-Imran ayat 79-80
Mengetahui kaitan antara surah al-Imran ayat 79-80 dengan dunia pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
79. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
80. Dan (Tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.

[208] Rabbani ialah orang yang Sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.

B. Penafsiran Al-Imran Ayat 79-80
Qur’an surah al-Imran yat 79-80 dijelasakan dalam tafir al-Misbah karangan Prof.Dr.Quraishihab yaitu , sekelompok pemuka Kristen dan Yahudi menemui Rasulullah SAW. mereka bertanya : ‘Hai Muhammad apakah engkau ingin agar kami menyembahmu ?’ salah seorang diantara mereka bernama ar-Rais mempertegas, ’apakah untuk itu engkau mengajak kami ?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah dari penyembahan selain Allah atau menyuruh yang demikian. Allah sama sekali tidak menyuruh saya demikian tidak pula mengutus saya untuk itu’. Demikian jawab Rasul SAW yang memperkuat turunnya ayat ini.
Dari segi hubungan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya dapat dikemukakan bahwa setelah penjelasan tentang kebenaran yang sembunyikan oleh bani israil dan hal-hal yang berkaitan dengannya selesai diuraikan dalam ayat-ayat lalu dan berakhir pada penegasan bahwa mereka tidak segan-segan berbohong kepada Allah, dan ini juga berarti berbohong atas nama Nabi dan Rasul karena tidak ada informasi pasti dari Allah kecuali dari mereka. Maka disini diteg askan bahwa bagi seorang nabi pun hal tersebut tidak wajar. Bahwa yang dinafikan oleh ayat ini adalah penyembahan kepada selain Allah sangat pada tempatnya. Oleh karena apapun yang disampaikan oleh Nabi atas nama Allah adalah ibadah. Tidak wajar dan tidak tergambar dalam benak, betapapun keadaannya bagi seorang manusia, siapapun dia dan betapapun tinggi kedudukannya, baik Muhammad SAW maupun Isa dan selain mereka, yang Allah berikan kepadanya al-Kitab dan hikmah yang digunakannya untuk menetapkan keputusan hukum.
Hikmah adalah ilmu amaliyah dan amal ilmiah, dan kenabian yakni informasi yang diyakini bersumber dari Allah yang disampaikan kepada orang-orang tertentu pilihanNya yang mengandung ajakan untuk menegaskanNya. Tidak wajar bagi seseorang yang memperoleh anugerah-anugerah itu kemudian dia berkata bohong kepada manusia ‘hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah’. Betapa itu tidak wajar, bukankah kitab suci Yahudi atau Nasrani apalagi al-Qur’an, melarang mempersekutukan Allah dan mengajak menegaskanNya dalam zat, sifat, perbuatan, dan ibadah kepadaNya?.
Bukankah Nabi dan Rasul adalah yang paling mengetahui tentang Allah?. Bukannkah penyembahan kepada manusia berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sedangkan, mereka adalah orang yang memiliki hikmah, sehingga tidak mungkin meletakkan manusia atau makhluk apapun ditempat dan kedudukan sang Khaliq ?. Jika demikian, tidak mungkin Isa as. manusia ciptaan Allah dan pilihanNya itu, menyuruh orang lain menyembah dirinya sebagaimana diduga oleh orang-orang Nasrani.
Selanjutnya, mereka tidak akan diam dalam mengajak kepada kebaikan atau mencegah keburukan. Tidak ! tetapi dia tidak akan mengajak dan terus mengajak, antara lain akan berkata, ‘ Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabban, yang berpegang teguh serta mengamalkan nilai-nilai Ilahi, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu terus menerus mempelajarinya’.
Kata tsumma yakni kemudian yang diletakkan diantara uraian tentang anugerah-anugerahNya dan pernyataan bahwa mereka menyuruh orang menyembah manusia, bukan berarti adanya jarak waktu tetapi untuk mengisyaratkan betapa jauh ucapan demikian dari sifat-sifat mereka dan betapa ucapan tersebut tidak masuk akal. Kalau Nabi dan Rasul demikian halnya, maka tentu lebih tidak wajar lagi manusia biasa mengucapkan kata-kata demikian.
Kata rabbani terambil dari kata rabb yang memiliki aneka makna antara lain pendidik dan pelindung. Jika kata trsebut berdiri sendiri, maka tidak lain yang dimaksud Allah SWT.
Para pemuka Yahudi dan Nasrani yang dianugerahi al-Kitab, hikmah, dan kenabian menganjurkan semua orang menjadi rabbani dalam arti semua aktivitas, gerak dan langkah, niat dan ucapan, kesemuanya sejalan dengan nilai-nilai yang dipesankan oleh Allah SWT. Yang Maha Pemelihara dan Pendidik itu.
Kata tadarrusun digunakan dalam arti meneliti sesuatu guna diambil manfaatnya. Dalam konteks teks baik suci Maupun selainnya ia adalah membahas, mendiskusikan teks untuk menarik kesimpulan (informasi) dan pesan-pesan yang dikandungnya.
Kenyataan bahwa seorang rabbani harus terus menerus mengajar adalah karena manusia tidak luput dari kekurangan. Disisi lain, rabbani bertugas terus menerus membahas membahas dan mempelajari kitab suci, karena firman-firman Allah sedemikian luas kandungan maknanya, sehingga semakin digali, semakin banyak yang dapat diraih walupun yang dibaca adalah teks yang sama. Kitab Allah tidak ubahnya dengan kitabNya yang terhampar, yaitu alam raya. Walaupun alam raya sejak diciptakan hingga kini tidak berubah, namun rahasia yang dikandungnya tidak pernah habis terkuak. Rahasia-rahasia alam tidak henti-hentinya terungkap, dan dari saat ke saat ditemukan hal-hal baru yang belum ditemukan sebelumnya.
Objeknya alam raya maupun kitab suci. Nah, yang ditemukan dalam bahasan dan penelitian itu hendaknya diajarkan pula, sehingga yang mengajar dan yang meneliti bertemu pada satu lingkaranyang tidak terputus kecuali dengan terputusnya lingkaran, yakni dengan kematian seseorang. Bukankah pesan agama ‘belajarlah dari buaian hingga liang lahat’. Dan bukankah al-Qur’an menegaskan kerugian orang-orang yang tidak salin wasiat mewasiati tentang kebenaran dan ketabahan yakni saling ajar mengajari, tentang ilmu dan petunjuk serta ingat mengingatkan tentang perlunya ketabahan dalam hidup ini.
Pada ayat 80 surah al-Imran tersebut dijelaskan setelah menafikan bahwa para pilihan itu tidak mungkin dan tidak wajar menganjurkan agar manusia menyembah mereka, disini ditegaskan pula bahwa mereka juga tidak akan pernah menyuruh makhluk-makhluk Allah menyembah selain mereka, walupun makhluk itu makhluk pilihan.
Dan tidak (wajar pula baginya) menyuruh kamu, wahai seluruh manusia untuk menjadikan malaikat-malaikat dan para Nabi, apalagi selian mereka sebagai tuhan-tuhan untuk mempersekutukan mereka dengan Allah, atau menjadikan mereka tuhan secara berdiri sendiri. Bahkan semua sikap yang mengandung makna persekutuan atas pengingkaran kepada Allah, walau sedikit tidak mungkin mereka lakukan. Apakah (patut) dia menyuruh berbuat kekafiran disaat kamu telah menjadi orang yang berserah diri kepadaNya? yakni patuh kepadaNya secara potensial dengan diciptakannya setiap manusia memiliki fitreh kesucian serta ketaatan dan ketunduka kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Penyebutan para malaikat dan Nabi-Nabi pada ayat ini hanya sekedar sebagai contoh, sementara yang dimaksud adalah selain Allah, seperti misalnya bulan, matahari atau leluhur. Kalupun hanya malaikat dan Nabi-Nabi yang disebut oleh ayat ini, karena hanya itulah yang disembah oleh masyarakat jahiliyah dan orang Yahudi dan Nasrani.
Pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa patron kata yang dibubuhi penambahan huruf ta’ mengandung makna keterpaksaan dan rasa berat (hati, tenaga dan pikiran) untuk melakukannya. Jika demikian, penyembahan kepada selain Allah SWT. yang digambarkan dalam ayat ini dengan kata tattakhizu yang diatas diartikan diterjemahan dengan menjadikan. Mengandung makna bahwa penyembahan itu bila te jadi pada hakikatnya dipaksakan atas jiwa manusia, bukan merupakan sesuatu yang lahir dari fitrah atau naluri normalnya. Demikian ditulis al-Baqi dalam tafsir.
Ada juga yang memahami kata muslim pada ayat ini sebagai kaum muslim umat Nabi Muhammad SAW. Asy-Sya’rawi menulis bahwa ayat ini seakan-akan berkaitan dengan kaum muslim yang bermaksud menghormati Rasul melebihi yang sewajarnya, mereka bermaksud sujud kepada beliau, maka Nabi melarang mereka dan menegaskan bahwa sujud hanya diperkenankan kepada Allah SWT. Tampaknya, pendapat pertama lebih cepat, apalagi bila disadari bahwa ayat ini turun di Madinah setelah sekian lama Rasul SAW. menanamkan aqidah Tauhid dikalangan masyarakat, sehingga larangan sujud kepada selain Allah sudah sangat popular, walau dikalangan non muslim. Dengan demikian, mustahil rasanya ada seorang muslim yang bermaksud sujud kepada Nabi SAW.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan Surah al-Imran ayat 79-80 dapat kita ambil kesimpulan antara isi surah al-Imran ayat 79-80 tersebut dengan dunia pendidikan, yaitu:
Untuk mendapatkan ilmu (seseorang yang ingin mendapatkan ilmu) tidak dalam waktu yang singkat (sebentar) tetapi membutuhkan waktu yang lama.
Dengan menuntut ilmu (belajar) seseorang bias tahu apa yang belum diketahui karena masih banyak ilmu Allah yang masih belum teungkap (seseorang harus belajar terus menerus). Bukankah Allah memberikan ilmu kepada manusia melainkan hanya sedikit.
Seseorang yang menuntut ilmu juga melakukan penelitian guna memperluas (memperdalam) suatu ilmu sehingga hasil penelitian tersebut didiskusikan, dibahas, kemudian hasil penelitian yang sudah didiskusikan dan dibahas tersebut d isampaikan (dipersentasikan).
Sekalipun telah menjadi seorang pendidik seorang guru tersebut tidak hanya (tidak berhenti) belajar sampai ia menjadi pendidik tetapi harus belajar terus menerus
Seorang pendidik tidak boleh memaksakan sesuatu yang tidak disukai kepada peserta didik (mengedepankan norma)
Peserta didik harus berniat dengan tulus ikhlas sehingga dalam menuntut ilmu tidak merasa ada paksaan
Peserta didik harus menghormati orang yang lebih tua darinya lebih-lebih kepada guru
Seseorang yang berilmu tidak boleh sombong dengan ilmu yang dimilikinya.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Dar al-Firk Al-Ashfahani (2004) Mu’jam Mufradat Alfad/ Alquran,Baerut,Dar al-Kutub Arabi
Dar al-Fikr Ibnu Al-Jauzi ( 1965) Zaad al-Masir fi Ilmi al-Tafsir, Damascus,
Maktabah Islami Al-Suyuthi ( 1993) Al-Dur al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur, Baerut,
Shawi al-Maliki (1993) Hasyiah al-’Alamah al-Shawi, Baerut,

http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/12/tafsir-tarbiyah-qs-al-imran-ayat-79-80.html


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: